TAHUN 2020 PROFESI AMIL MENJADI PILIHAN UTAMA
Makna zakat Secara Bahasa (lughat), berarti : tumbuh; berkembang dan berkah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10). Seorang yang membayar zakat karena keimanannya nicaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT berfirman : "Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.". (QS : At-Taubah : 103). Sedangkan menurut terminologi syari'ah (istilah syara'), zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu tertentu. Kata amil diambil dari surat at-taubah : 60 sebagai salah satu petugas yang mengelola dana zakat infak dan sedekah, begitupula kata : "Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." Kata Pengutlah memiliki makna fiil amri (kata perintah) tandanya harus ada pengelola di lembaga atau petugas yang disebut Amil.
Peran Rasulullah, Saidina Abu Bakar, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memperoleh dan mengembangkan zakat sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Begitu besarnya kebijakan di bidang zakat sebagai sumber pendapatan untuk subsidi silang langsung yang dapat meningkatkan daya beli, sehingga meningkatkan permintaan dan akhirnya meningkatkan produksi, yang merupakan salah satu factor pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Kebijakan pengelolaan zakat yang langsung dikendalikan pemerintahan ternyata mampu mengarahkan pada sasaran dan bahkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tentu ini tidak terlepas dari pengelolaan yang bersih, bebas dari korupsi dan manipulasi.
Dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah memberikan kepadanya zakat, lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi. Salim pun mengelolanya sampai ia mampu memberikan sedekah dari usaha tersebut. Sejarah tersebut menjadi tonggak awal bagaiman mengelola zakat sehingga menjadi sesuatu yang produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Seirng tumbuh kembangnya dunia perzakatan di indonesia, semakin menamabah keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi akan semakin menguat. Hal ini termasuk karena zakat sebagai salah satu instrumen dalam memulihkan perekonomian ummat.
Mengapa pada tahun tertentu bahwa profesi amil menjadi pilihan utama, karena diantaranya adalah: Pertama semakin tumbuhnya lembaga pengelola zakat di indonesia semakin subur tandanya SDM amil semakin banyak. Kedua penghimpunan zakat setiap tahun semakin bertambah meskipun masih belum optimal. Ketiga jumlah penghimpunan setiap tahunnya 19.3 trilyun. Dari sejarahpun banyak memberikan bukti bahwa pengelolaan ZIS yang dikelola oleh amil secara profesional mencapai masa keemasannya. Oleh karena itu penulis mentargetkan pada tahun 2020 profesi amil akan sejajar dengan profesi lainya seperti, bankir, arsitek, dokter, Psikolog dan lainnya.
Senin, 13 April 2009
Jumat, 12 Desember 2008
GELAR HAJI
Gelar Haji
Predikat yang satu ini memang tidak harus memenuhi mata kuliah layaknya di kampus. Gelar Haji dan Hajjah memang dipakai bagi mereka yang telah menyelesaikan dan menunanikan rukun islam yang ke lima yaitu Haji. Tidak hanya dana, yang dikeluarkan untuk mendapatkan gelar Haji tapi juga waktu dan dana lainnya yang mensupport orang naik haji. Tahun ini 1429 H atau 2008 M sekitar 210 ribu orang Pemerintah RI memberangkatkan jamaah Haji indonesia, sekaligus jumlah ranking 10 besar di banding negara lain.
Tak soal gelar tapi haji menjadi ritual tahunan bagi masyarakat kelas menengah keatas. Haji membutuhkan dana sekitar 30 juta di luar dana, persiapan, tamabahan uang saku untuk pembelian sovenir dan biaya lainnya. Namun jika berangkat haji melalui ONH Plus maka tak sedikit kocek yang dikeluarkan oleh jamaah lebih dari 45 juta yang harus dikeluarkan. Efek dari maslaha ke hajian adalah banyak yang diuntungkan, mulai dari Perbankan penggguna jasa hai, tarnsportasi, pelayanan penerbangan, pedagang kaki lima dan lainnya. Dilihat dari nilai rupiah uang yang berputar pada satu kali musim haji adalah 7 trilyun rupiah.Angka yang besar dan sangat real di masyarakat terlebih berputar di kalangan pebisnis baik tingkat kakap sampai kali lima.
Namun gelar haji dan hajjah seharusnya menjadi pemantik keimanan bagi mereka yang selesai menuanaikan ibdaha haji. Bukti adalah pernanan penting yang mendukung semua gelar yang diberikan kepada meereka yang telah berhaji. Seharusnya ini menjadi bola salju kebaikan dan bola keimanan di masyarakat karena semakin banyak jumlah haji dan hajjah maka semakin banyak pula yang berinteraksi di masyarakat dengan gelarnya.
Setidaknya ada dua hal yang dapat diambil dari Gelar haji ini. Pertama niat dan tujuan dari haji, hendaknya menuanaikan haji hanya karena Allah semata. Hingga dapat memperoleh gelar haji yang sempurna. Gelar haji bukan hanya gelar saja, tapi jadikan sebagai benteng dalam kehidupan sehari-hari. Iman seseorang kadang naik dan turun, naik saat beribadah kepada Allah menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Turun jika banyak berbuat maksiat kepada Allah, semakin banyak melakukan hal yang dilarang maka semakin turun iman dan semakin jauh dari Allah. Selain menjadi benteng haji juga hendaknya dapat memberi banyak manfaat seiring status di amsyarakat bertamabah juga sebagai langkah untuk memperbaiki diri. Bukankah dalam hadits dikatakan "Balasan Haji yang mabrur tiada lain adalah Syurga. Kedua gelar haji hendaknya dijadikan sebagai hal yang positif motivasi untuk selalu memperbaiki diri dan sarana untuk evaluasi. Apakah mungkin seorang bergelar haji melakukan hal yang sia-sia, berbuat zhalim di masyarakat, sombong dan sejenisnya semua adalah langkah syetan untuk terus menggoda manusia tanpa melihat haji dan hajjah atau bukan. Motivasi dan doa adalah dua rangkaian yang saling terkait karen aitu gelar haji dan hajjah di masayarakat bukan hanya meningkatkan status strata di masyarakat melainkan gelar yang terus di bawa sampai mati. Wallahu'alamBisshowwab.
Predikat yang satu ini memang tidak harus memenuhi mata kuliah layaknya di kampus. Gelar Haji dan Hajjah memang dipakai bagi mereka yang telah menyelesaikan dan menunanikan rukun islam yang ke lima yaitu Haji. Tidak hanya dana, yang dikeluarkan untuk mendapatkan gelar Haji tapi juga waktu dan dana lainnya yang mensupport orang naik haji. Tahun ini 1429 H atau 2008 M sekitar 210 ribu orang Pemerintah RI memberangkatkan jamaah Haji indonesia, sekaligus jumlah ranking 10 besar di banding negara lain.
Tak soal gelar tapi haji menjadi ritual tahunan bagi masyarakat kelas menengah keatas. Haji membutuhkan dana sekitar 30 juta di luar dana, persiapan, tamabahan uang saku untuk pembelian sovenir dan biaya lainnya. Namun jika berangkat haji melalui ONH Plus maka tak sedikit kocek yang dikeluarkan oleh jamaah lebih dari 45 juta yang harus dikeluarkan. Efek dari maslaha ke hajian adalah banyak yang diuntungkan, mulai dari Perbankan penggguna jasa hai, tarnsportasi, pelayanan penerbangan, pedagang kaki lima dan lainnya. Dilihat dari nilai rupiah uang yang berputar pada satu kali musim haji adalah 7 trilyun rupiah.Angka yang besar dan sangat real di masyarakat terlebih berputar di kalangan pebisnis baik tingkat kakap sampai kali lima.
Namun gelar haji dan hajjah seharusnya menjadi pemantik keimanan bagi mereka yang selesai menuanaikan ibdaha haji. Bukti adalah pernanan penting yang mendukung semua gelar yang diberikan kepada meereka yang telah berhaji. Seharusnya ini menjadi bola salju kebaikan dan bola keimanan di masyarakat karena semakin banyak jumlah haji dan hajjah maka semakin banyak pula yang berinteraksi di masyarakat dengan gelarnya.
Setidaknya ada dua hal yang dapat diambil dari Gelar haji ini. Pertama niat dan tujuan dari haji, hendaknya menuanaikan haji hanya karena Allah semata. Hingga dapat memperoleh gelar haji yang sempurna. Gelar haji bukan hanya gelar saja, tapi jadikan sebagai benteng dalam kehidupan sehari-hari. Iman seseorang kadang naik dan turun, naik saat beribadah kepada Allah menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Turun jika banyak berbuat maksiat kepada Allah, semakin banyak melakukan hal yang dilarang maka semakin turun iman dan semakin jauh dari Allah. Selain menjadi benteng haji juga hendaknya dapat memberi banyak manfaat seiring status di amsyarakat bertamabah juga sebagai langkah untuk memperbaiki diri. Bukankah dalam hadits dikatakan "Balasan Haji yang mabrur tiada lain adalah Syurga. Kedua gelar haji hendaknya dijadikan sebagai hal yang positif motivasi untuk selalu memperbaiki diri dan sarana untuk evaluasi. Apakah mungkin seorang bergelar haji melakukan hal yang sia-sia, berbuat zhalim di masyarakat, sombong dan sejenisnya semua adalah langkah syetan untuk terus menggoda manusia tanpa melihat haji dan hajjah atau bukan. Motivasi dan doa adalah dua rangkaian yang saling terkait karen aitu gelar haji dan hajjah di masayarakat bukan hanya meningkatkan status strata di masyarakat melainkan gelar yang terus di bawa sampai mati. Wallahu'alamBisshowwab.
Langganan:
Postingan (Atom)
